
Di Indonesia bahasa gaul memiliki banyak ragam. Setiap komunitas atau setiap daerah bisa jadi melahirkan bahasa gaulnya masing-masing dan eksis hingga kini. Masyarakat Malang misalnya, mereka memiliki bahasa gaul yang populer dengan pola “walikan” di mana sebuah kosakata dalam “kamus gaul” mereka dibentuk dengan cara membalik kosakata aslinya. Percaya atau tidak banyak warga Malang yang fasih mengucapkan kalimat dengan susunan kata yang sebagian besar atau seluruhnya dibalik.
Sementara Malang melahirkan bahasa walikan, Jogja pun memiliki bahasa gaulnya sendiri. Betul, orang Jogja tak hanya menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari mereka. Meski menjunjung tinggi bahasa ibunya, warga Jogja juga meramaikan percakapan di antara mereka dengan bahasa gaul. Hebatnya bahasa gaul Jogja menjadi sangat populer bukan hanya di kalangan remaja atau anak mudanya saja namun mulai menyebar ke sejumlah kalangan. Dengan bahasa gaul mereka membuat percakapan menjadi lebih intim.
Status Jogja sebagai ikon wisata Indonesia dan kota budaya turut mempopulerkan bahasa gaulnya. Beberapa bahasa gaul Jogja sangat identik dan khas Jogja. Tak sedikit yang seolah-olah baku seperti halnya bahasa Jawa digunakan di daerah ini. “Piye dab, mangkat ora?. Pokmen aku wegah dhewekan”. Begitulah “dab” dan “pokmen” sebagai bahasa gaul Jogja melebur serasi dan seakan tak terlihat telah bercampur dengan bahasa Jawa.

Namun meski banyak digunakan tak banyak orang tahu seperti apa proses kreatif pembentukan bahasa gaul Jogja. Tak sedikit masyarakat termasuk orang Jogja sendiri yang tak paham asal mula bahasa gaul yang kerap mereka munculkan dalam percakapan. Berikut ini saya sarikan beberapa bahasa gaul yang populer di Jogja dari skripsi mengenai bahasa prokem atau bahasa gaul di Jogja. Skripsi tersebut hasil penelitian Ismiyati pada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jogja tahun 2011.
Bahasa gaul yang dibentuk dengan memperpendek pengucapannya atau menjadikannya singkatan. Beberapa kosakata gaul populer yang dibentuk dengan cara demikian adalah Ndes berasal dari Ndesa yang artinya kampungan. Gondesberasal dari Gondrong Ndesa untuk meledek orang meski rambutnya mungkin tidak gondrong tapi dianggap kampungan.Mendes berasal dari Menthel Ndesa yang artinya gadis desa berperilaku genit. Ada juga Mukri yaitu Munyuk Kriting untuk meledek orang yang berpenampilan unik dengan rambut kriting.Raker berasal dari Randa Keren yang artinya janda keren.
Pede kependekan dari Pekok Dhewe. Pekok artinya bodoh,dhewe berarti sendiri. Pede ditujukan untuk orang yang terkesan paling bodoh. Ada juga yang unik yaitu Pecelele singkatan dari Pecinta Cewek Lemu-Lemu yaitu mereka yang menyukai wanita berbadan gemuk.
Hamsyong berasal dari Hampa dan Kosong yang berarti sangat kesepian. Macan Tutul berasal dari Manis Cantik Turunan Bantul yang artinya gadis cantik berasal dari Bantul.

Ayui(k), Orai(k), Asemi(k) adalah bahasa gaul yang dibentuk dengan penambahan “i” dan penekanan “k” di ujungnya. Penambahan itu memperkuat kesan kosakata aslinya. MisalnyaAsemi(k) bermakna lebih mengumpat dari sekedar “asem!”. “Ayui(k)” setara dengan “wow ayu sekali!”
Ada juga bahasa gaul yang dibentuk dengan cara membalik konsonan atau memindahkan vokal. Yipe berasal dari pembalikanPiye yang artinya bagaimana. Yai berasal dari pemindahan vokal Iya. Lalu Gombret yang berasal dari Gembrot artinya Gendut.
Kosakata bahasa gaul Jogja juga dibentuk dari penghilangan vokal terakhirnya seperti Sop berasal dari Sopo (siapa) yang kehilangan “o” atau Or dari kata Ora (tidak) yang kehilangan “a”.
Lalu repetisi contohnya Pah Poh yang berarti suka melamun atau lambat merespon.

Bahasa gaul Jogja juga dibentuk dengan mengambil referensi tertentu ditambah akhiran untuk menggambarkan sifat seseorang. Contoh bahasa gaul yang dibentuk dengan cara ini adalah Munyukan yang berasal dariMunyuk atau Monyet. Munyukan berarti perilaku orang yang suka garuk-garuk kepala seperti monyet. Contoh lainnya adalah Mbok-mbokan berasal dari Mbok atau Ibu berarti sifat mudah kangen atau manja kepada ibu.
Di luar itu semua masih ada beberapa kosa kata gaul Jogja yang kerap mengisi percakapan masyarakat terutama anak mudanya. Bahasa-bahasa gaul itu tak hanya eksis di dalam rumah kos, warung-warung makan, perbicangan ruang keluarga tapi juga populer di kampus. Oleh karena itu jangan terkejut jika kita berbincang dengan sesama pemakai bahasa Jawa di Jogja namun sering “roaming” dengan kosakatanya, itu berarti kita belum menjadi anak gaul Jogja.
Lalu dari mana sapaan gaul “dab” yang menjadi ikon sekaligus simbol eksistensi bahasa gaul Jogja yang sangat populer itu berasal? Berbeda dengan kosakata gaul lainnya yang dibentuk dengan memodifikasi susunannya, “dab” dibentuk dengan melibatkan teka-teki ala detektif. Proses pembentukan “dab” boleh dibilang sangat cerdas. Berikut pembentukkannya.

Pa dha ja ya nya maga ba tha nga
Dua baris di atas adalah aksara Jawa yang diurutkan. Dengan metode layaknya pencerminan, “dab” dibuat dengan cara melihat aksara yang bersebarangan atau berhadapan. “Dab” yang berarti sapaan untuk laki-laki yakni “mas” terbentuk dari “da” yang berseberangan “ma” dan “b” pada “ba” yang berseberangan dengan “s” pada “sa”. Proses pembentukan yang kreatif sekaligus njlimet.
Bahasa gaul Jogja memang istimewa. Selamat “menjadi gaul” di Jogja.
Sumber : http://kampusjogja.com/dari-dab-hingga-pah-poh-macam-macam-bahasa-gaul-jogja/
Anda sedang membaca artikel tentang Dari ‘dab’ Hingga ‘pah poh’; Macam-macam Bahasa Gaul Jogja dan anda bisa menemukan artikel Dari ‘dab’ Hingga ‘pah poh’; Macam-macam Bahasa Gaul Jogja ini dengan url http://kucing4rt.blogspot.com/2014/02/dari-dab-hingga-pah-poh-macam-macam.html. Terima kasih telah membaca Dari ‘dab’ Hingga ‘pah poh’; Macam-macam Bahasa Gaul Jogja .
Terima kasih telah berkunjung.
Jangan lupa tulis komentarnya ya.